Kabut Asap Karhutla, Kasus ISPA dan Diare di Bartim Meningkat
Tamiang Layang, forumhukum.online – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Barito Timur meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Dinas Kesehatan mengingatkan masyarakat untuk waspada, terutama di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai menyelimuti sejumlah wilayah.
Kepala Dinas Kesehatan Barito Timur, dr. Jimmi W.S. Hutagalung, membenarkan adanya peningkatan kasus tersebut. Menurutnya, paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan.
“Ada peningkatan kasus ISPA di Barito Timur. Kondisi ini perlu diwaspadai, terutama bersamaan dengan kejadian kebakaran hutan dan lahan,” kata dr. Jimmi.
Berdasarkan laporan mingguan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) Dinas Kesehatan Barito Timur, tren kasus ISPA pada minggu ke-18 sampai minggu ke-33 tahun 2026 menunjukkan pola fluktuatif dengan kecenderungan meningkat pada minggu-minggu terakhir.
Pada minggu ke-18 tercatat 119 kasus ISPA. Jumlah tersebut meningkat menjadi 280 kasus pada minggu ke-33, atau bertambah 161 kasus dibandingkan minggu ke-18.
Peningkatan yang cukup menonjol mulai terlihat sejak minggu ke-28. Data tersebut menunjukkan perlunya kewaspadaan, khususnya ketika peningkatan kasus berlangsung bersamaan dengan kondisi kabut asap akibat karhutla.
Kepala Dinas Kesehatan Barito Timur, dr. Jimmi W.S. Hutagalung, mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama kabut asap karhutla. Paparan asap dapat mengganggu saluran pernapasan sehingga masyarakat disarankan mengurangi paparan langsung dan tidak mengabaikan keluhan kesehatan.
“Kalau kondisi udara sudah terdampak asap, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan. Terutama bagi masyarakat yang mengalami keluhan pada saluran pernapasan, jangan diabaikan dan segera mendapatkan pemeriksaan apabila diperlukan,” ujarnya.
Tak hanya ISPA, Dinkes Barito Timur juga mencatat kecenderungan peningkatan kasus diare dalam beberapa pekan terakhir. Kasus terendah tercatat 28 kasus pada minggu ke-22, sedangkan tertinggi mencapai 85 kasus pada minggu ke-33. Kenaikan paling terlihat pada minggu ke-31 hingga ke-33.
Dr. Jimmi mengatakan peningkatan kasus diare juga perlu diantisipasi dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
“Untuk diare, kita juga mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kualitas air bersih, sanitasi, kebersihan makanan, dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat,” katanya.
Dinkes Barito Timur terus melakukan pemantauan perkembangan kasus melalui SKDR sebagai bagian dari upaya kewaspadaan dini dan respons terhadap potensi peningkatan penyakit di masyarakat.
Data tersebut dihimpun sepanjang 1 Mei hingga 29 Agustus 2026 melalui pemantauan di 11 puskesmas dan satu rumah sakit di Kabupaten Barito Timur. (Vna)
